Senin, 27 Februari 2012

 Pendidikan dan Realitas Sosial
Oleh;    Mohammad Ali


Pendikan adalah hal pokok yang harus di konsumsi manusia untuk menambah hazanah ilmu pengetahun dalam menjalani kehidup kedepan. Kadang kita menyia-nyiakan hal kecil yang kurang di fahami oleh kita, misalnya membaca, ini adalah hal kecil yang kadang malez untuk dikerjakan dan di biasakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga masyarakat banyak ketinggalan akan perkembangan ilmu pengetahuan di pentas pendidikan.
Orang Thailand hobinya membaca, mereka membiasakan membaca mulai dari rumah(keluar rumah) sampai kembali lagi kerumah dengan tetap bawa buku dan membacanya, takheran kalau kita mendengar fragmen orang Thailand yang sangat terkenal yaitu” orang tidak membaca buku satu hari berbicara itu adalah basi” sehingga semangat dalam membaca di biasakan dalam kehidupannya, tak salah kalau orang Thailand  cerdas-cerdas dan mempunyai kualitas intelektual yang luar biasa.
Sebagai mahasiswa kita harus membiasakan membaca dan berdiskusi untuk menopang materi-materi yang di ajarkan oleh dosen yang tersedia dalam bangku  kuliah, karena dalam kuliah hanya mendapatkan ilmu pengetahuan 25% dan 75% nya harus mengembangkannya sendiri yaitu dengan membaca dan berdiskusi.
Kalau melihat kehidupan yang ada dikampus pada dewasa ini, budaya membaca dan berdiskusi sudah hanpir hilang (pudar), hanya minoritas saja orang-orang yang ingin mengasah khazanah ilmu pengetahuannya. Realitasnya budaya yang sudah lama mengakar di dalam dunia pendidikan pada saat ini sudah hampir pudar dalam kehidupan ini, bagaimana suatu lembaga dapat melahirkan peserta didik yang ideal, sesuai dengan visi dan misi lembaga tersebut. dengan berbagai metode yang ditawarkan oleh pemerintah membuat panggung pendidikan semakin asing bagi peserta didik, beda pada masa dulu (pendidikan tradisional ) yang menekankam metode ceramah untuk mengodok siswa bagaimana agar siswa menjadi yang ideal sesuai dengan cita-cita lembaga tersebut.
Kenapa orang dulu lebih sukses dari orang sekarang dalam penguasaan ilmu pengetahuan? Pertanyaan sederhana yang harus kita jawab, karena metode yang diterapkan pada masa dulu yaitu metode menghafal dan berfikir, guru menerangkan dan siwa menyimaknya sehingga pelajaran yang di ajarkan  mudah diingat dan di pahami oleh peserta didik.
Beda dengan pendidikan pada masa sekarang,  yang kita kenal dengan pendidikan modern, secara metodologi banyak metode yang diperkenalkan kepada anak didik, sehingga dia merasa asing dengan metode-metode baru tersebut, dan anak didik diberi kebebasan dalam belajar sehingga dalam pengusaan materi pelajaran  kurang begitu di perhatikan lebihh pada  ke kreatifitas  dalam suatu teknologi.
Kenapa Amerikat serikat kagum terhadap pendidikan yang diterapkan di jepang, karena di jepang masih mempertahankan pendidikan tradisional ( menghafal dan berfikir), dimana di jepang yang perioritaskan adalah bagaimana seorang siswa dapat menguasai mata pelajaran yang diajarkan oleh guru dan di tambah dengan pendidikan nonformal untuk lebih memahaminya, tak salah kalau orang-orang jepang cerdas-cerdas.
Pendidikan jepang di ketegorikan sistem pendidikan tradisional, pemerintah pusat mengontrol dan menentukan kurikulum secara nasional baik sekolah negri dan swasta. Pendidikan di jepang telah berhasil mencetak tenaga kerja dengan semangat, motivasi, dan waktu pas bagi pembangunan. Dengan singkat pendidikan jepang dapat dikatakan suatu sistem pendidikan yan  kaku, seragam dan tidak pilih anak. Sistem pendidikan yang menekankan disiplin dan hafalan serta daya ingat sebagai mana yang diterapkan di jepang, lebih hebat dari pada sistem pendidikan yang menekankan kebebasan, kemandirian dan kreatifitas individu sebagai mana yang diterapkan di Australia.
Kenapa di indonesia pendidikan sekarang lebih maju dari masa ORLA, karena pada masa itu sistem yang diterapkan sistem pendidikan menghafal dan berfikir sehingga negara ini mampu  melahirkan orang-orang yang sangat berpengaruh bagi negara lain (dapat mengajar negara lain).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar